Intimacy vs Isolation

Intimacy vs Isolation

Kasus : saya mempunyai tante. Beliau sudah berumur kepala tiga. Namun sampai saat ini beliau belum menikah. Dan mempunyai sikap yang kurang terbuka terhadap pria. Dikarenakan  ditinggal kekasihnya yang telah menikah dengan orang lain. Padahal beliau dan kekasihnya sudah menjalin hubungan semenjak dari SMP.

Pembahaan :

Kasus yang tante saya alami, saya hubungkan dengan Teori Erikson (Psikososial) khususnya tahap perkembangan intimacy vs isolation (keintiman vs menutup diri). Pada tahap ini timbul dorongan untuk membentuk hubungkan yang intim dengan orang-orang tertentu, dan kurang akrab atau renggang dengan yang lainnya. Jenjang ini menurut Erikson adalah ingin mencapai kedekatan dengan orang lain dan berusaha menhindar dari sikap menyendiri. Periode diperlihatkan dengan adanya hubungan special dengan orang lain yang biasanya disebut dengan istilah pacaran guna memperlihatkan dan mencapai kelekatan dan kedekatan dengan orang lain. Dimana muatan pemahaman dalam kedekatan dengan orang lain mengandung arti adanya kerja sama yang terjalin dengan orang lain. Akan tetapi, peristiwa ini akan memiliki pengaruh yang berbeda apabila seseorang dalam tahap ini tidak mempunyai kemampuan untuk menjalin relasi dengan orang lain secara baik sehingga tumbuh sifat merasa terisolasi.

Erikson menyebut adanya kecenderungan maladaptive yang muncul dalam periode ini ialah rasa cuek, dimana seseorang sudah merasa terlalu bebas, sehingga mereka dapat berbuat sesuka hati tanpa memperdulikan dan merasa tergantung pada segala bentuk hubungan misalnya dalam hubungan dengan sahabat, tetangga, bahkan dengan orang yang kita cintai/kekasih sekalipun. Sementara dari segi lain/malignasi Erikson menyebutnya dengan keterkucilan, yaitu kecenderungan orang untuk mengisolasi/menutup diri sendiri dari cinta, persahabatan dan masyarakat, selain itu dapat juga muncul rasa benci dan dendam sebagai bentuk dari kesendirian dan kesepian yang dirasakan. Bukan hanya itu, individu yang mencoba membuat komitmen dengan orang lain;apabila tidak sukses, maka dia akan menderita isolasi dan pemisahan diri (kasus yang tante saya alami.

Oleh sebab itu, kecenderungan antara keintiman dan isolasi harus berjalan dengan seimbang guna memperoleh nilai yang positif yaitu cinta. Dalam konteks teorinya, cinta berarti kemampuan untuk mengeyampingkan segala bentuk perbedaan dan keangkuhan lewat rasa saling membutuhkan. Wilayah cinta yang dimaksudkan di sini tidak hanya mencakup hubungan dengan kekasih namun juga hubungan dengan orang tua, tetangga, sahabat, dan lain-lain.

Ritualisasi yang terjadi pada tahap ini yaitu adanya afiliasi dan eltisme. Afilisiasi menunjukkan suatu sikap yang baik dengan mencerminkan sikap untuk mempertahankan cinta yang dibangun dengan sahabat, kekasih dan lain-lain. Sedangkan eltisme menunjukkan sikap yang kurang terbuka dan selalu menaruh curiga terhadap orang lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: