MENCEGAH REMAJA BUNUH DIRI

MENCEGAH REMAJA BUNUH DIRI

Apa yang dapat dilakukan terhadap peningkatan bunuh diri di kalangan remaja ? banyak orang yang berniat bunuh diri merahasiakan rencana mereka, tetapi yang lain telah mengirimkan sinyal sebelumnya. Percobaan bunuh diri terkadang merupakan sinyal permohonan bantuan, dan sebagian orang tewas karena terlalu sukses dari yang mereka harapkan.

Sinyal akan bunuh diri antara lain penarikan diri dari hubungan;berbicara tentang kematian, hari kiamat; atau tentang bunuh diri; memberikan miliknya yang berharga; penyalahgunaan obat terlarang atau alkohol; perubahan kepribadian seperti peningkatan marah, rasa bosan, atau apatis; pengacuhan penampilan yang tidak biasa; kesulitan berkonsentrasi saat bekerja atau sekolah; menjauhkan diri dari pekerjaan, sekolah, atau aktivitas normal lainnya; mengeluhkan masalah fisik padahal tidak ada yang salah; makan atau tidur jauh lebih banyak atau lebih sedikit dari biasanya.

Teman dan orang tua mungkin dapat membantu dengan berbicara kepada remaja tentang pemikiran bunuh dirinya agar dikeluarkan; menceritakan hal tersebut kepada orang lain yang mampu melakukan sesuatu-orang tua atau pasangan orang tersebut, anggota keluarga lain, sahabat dekat, terapis, atau seorang konselor; dan menunjukkan kepada orang tersebut bahwa dia memiliki opsi lain di samping kematian, walaupun tidak satu pun di antara opsi tersebut yang ideal.

Hotline telepon merupakan tipe intervensi bunuh diri paling banyak bagi remaja, akan tetapi efektivitas merek tampaknya minim. Bahkan, sebagian program ini justru membahayakan dengan melebih-lebihkan tingkat bunuh diri remaja dan menggambarkannya sebagai reaksi terhadap stress remaja biasa ketimbang tindakan pathologis. Padahal, program tersebut seharusnya mengidentifikasikan dan menangani para remaja yang berada pada resiko tertentu untuk melakukan bunuh diri, termasuk mereka yang telah mencoba melakukannya. Sama pentingnya adalah menghilangkan faktor resiko-misalnya, pengurangan substance abuse, kekerasan, dan akses ke senjata api serta memperkuat keluarga serta meningkatkan keterampilan orang tua (Borowsky et al., 2001; Garland & Zigler, 1993). Program yang bertujuan meningkatkan harga diri dan menyusun pemecahan masalah serta kemampuan menghadapi masalah dapat diarahkan kepada remaja dan dilanjutkan sepanjang masa bersekolah (Meehan, 1990).

Referensi diambil dari : buku Psikologi Perkembangan bagian V-IX edisi kesembilan, dikarang oleh Diane E. Papalia, Sally Wendkos Old, Ruth Duskin Feldman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: