MEMAHAMI ADHD DALAM LINGKUNGAN BELAJAR

MEMAHAMI ADHD DALAM LINGKUNGAN BELAJAR

Selama beberapa dekade yang lampau, para peneliti menghubungkan kasus ADHD dengan faktor neurologi dan genetik. Kedua faktor inilah yang membuat gejala ADHD itu dapat diterapi, tetapi tidak dapat disembuhkan sama sekali (Barkley, 1998; Teetre & Semrud-Clikeman, 1995). Ini menunjukkan bahwa gejala ADHD memungkinkan untuk dimenej, tetapi tidak bisa dihilangkan sama sekali.

Gejala umum yang menjadi pertanda bahwa seorang anak mengidap ADHD adalah impulsivitas (perilaku untuk berbuat sekehendak hati). Prilaku impulsif inilah yang sering menjadi problem ketika anak penderita ADHD masuk dalam lingkungans ekolah umum. Ia akan selalu menjadi sumber kekacauan di kelas. Bahkan Zentall (1995) menyebutkan bahwa prilaku ini sering kali menjadi sumber konflik antara anak dengan teman, guru bahkan administrator sekolah. Dalam kaitan ini konselor dapat mengambil peran untuk mengarahkan perilaku anak agar dapat belajar untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sehingga mereka dapat menerima tugas dan berbagai aturan sekolah lainnya.

Sebenarnya, menurut McKinney, Montague, & Hocutt, (1993) serangan ADHD biasanya sudah mulai tampak sebelum anak berumur 4 tahun. Akan tetapi, seringkali gejala tersebut baru terdiagnosa ketika anak berada di bangku sekolah dasar, yaitu ketika anak baru pertama kali diperkenalkan dengan berbagai aturan sekolah yang mengikat mereka. Bagaimana anak belajar untuk mengatur diri dan lngkungan belajar selama tahun pertama mereka berada di sekolah akan sangat menentukan kesuksesan mereka untuk tahun-tahun kemudian.

Berdasarkan beberapa hasil riset (Barkley, DuPaul, & McMurray, 1990; Barkley, Fischer, Edelbrock, & Smallish, 1990; Weiss & Hechtman, 1993) disebutkan bahwa 56 % anak ADHD memerlukan pembelajaran privat, 30 % selalu mengulang kelas, 30 % – 40 % ditempatkan di sekolah khusus. Selanjutnya sekitar 46 % anak ADHD diasingkan dari sekolah, dimana lebih dari 30 % daripadanya adalah putus sekolah dan tidak menyelesaikan sekolah menengah atas. Sebagai tambahan, tanpa bantuan yang memadai, maka anak dengan ADHD akan sulit untuk mengembangkan kemampuan emosionalnya, dan selamanya mereka akan selalu menghadapi persoalan dalam mengatasi kemarahan, agresi, tekanan dan ketertarikan (McKinney et al., 1993; Reeve, 1990). Keadaan ini akan membuat anak penderita ADHD selalu berada di posisi oposisional yang selalu menentang dan mengacaukan suasana serta menjadi sumber konflik yang menyusahkan (Biederman, Faraone, & Lapey, 1992).

Keterampilan belajar (learning skills) seperti keterampilan mendengar, memperhatikan, mengikuti petunjuk dan memperlihatkan kemampuan sosial mempunyai korelasi yang kuat dengan kesuksesan akademik dan sosial di sekolah (Cartledge & Milburn, 1978; Eisenberg et al., 1997; Masten & Coatworth, 1998). Akan tetapi anak penderita ADHD susah untuk memusatkan perhatian dan sebaliknya mudah dikacaukan, mereka mengalami kesukaran dalam membuat tugas akademik, menyelesaikan pekerjaan rumah, dan sulit bertindak yang wajar terhadap guru dan teman-temannya. Kegagalan dan perlawanan yang selalu diterimanya secara berulang akan menurunkan kepercayaan dirinya. Ini akan diikuti dengan penurunan perhatian dan meningkatnya frustrasi, melemahya performen, rendahnya hasil ujian, selalu berkeliaran di kelas, juga berbagai perilaku mengganggu lainnya. Hal-hal semacam inilah yang harus menjadi perhatian konselor sekolah (DuPaul & Stoner, 1994; Reeve, 1990; Zentall, 1993).

Sumber : http://putrasyamsuri.blogspot.com/2009/02/konseling-kelompok-untuk-anak-adhd.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: