Efek Risperidone terhadap Perbaikan Perilaku Anak Autisme

Efek Risperidone terhadap Perbaikan Perilaku Anak Autisme

Autisme merupakan kondisi klinis yang dapat berkembang sejak awal masa anak-anak.dan bersifat kronik yang ditandai dengan kegagalan ataupun ketidakmampuan dalam berhubungan sosial dengan lingkungan ataupun dengan individu lainnya, keterlambatan perkembangan bahasa, serta gangguan perilaku. Angka kejadian dari autisme ini diperkirakan mencapai 20 kasus per 10.000 anak, dan studi lain dilaporkan sebesar 63 kasus per 10.000 anak. Pada beberapa kasus, gejala utama dari autisme ini sering disertai dengan perubahan perilaku yang serius seperti: perilaku merusak diri, agresivitas, tantrum yang merupakan suatu respon terhadap tuntutan lingkungan. Dan masalah gangguan perilaku ini akan menyebabkan masalah dalam proses rehabilitasi baik dari orang tua maupun dari pembimbing yang tentunya membutuhkan usaha yang lebih besar untuk memperbaiki hal tersebut.

Walaupun terapi perilaku dapat menurunkan agresivitas namun hal ini sangat bersifat individualistik dan belum ada studi acak tersamar ganda untuk hal ini, dan pula zat-zat yang dapat digunakan untuk autisme juga masih terbatas. Antagonis terhadap reseptor dopamine secara teoritis dapat digunakan, haloperidol merupakan salah satu antagonis reseptor dopamine yang memberikan efek positif. Namun penggunaan haloperidol pada anak-anak sangat dikhawatirkan khususnya dalam hal efek samping baik dalam jangka waktu pendek maupun pada penggunaan jangka panjang. Tidak seperti haloperidol, penggunaan atipikal antipsikotik yang mampu menghambat reseptor serotonin pasca sinaps yang diharapkan mampu memperbaiki efektivitas namun dengan efek samping gejala-gejala  ekstrapiramidal  yang lebih baik.

Risperidone yang merupakan salah satu atipikal antipsikotik, merupakan antagonis dopamin (D2), dan serotonin (5HT2A) dan lainnya khususnya pada penggunaan dosis kecil, risperidone diakui mempunyai efek ekstrapiramidal yang relatif kecil jika dibandingkan dengan preparat yang konvensional. Beberapa studi preliminari menunjukkan risperidone efektif dan aman digunakan untuk menurunkan gejala-gejala gangguan perilaku pada populasi studi dengan autisme. Namun apakah data-data dari studi pendahuluan ini juga menunjukkan bukti efektif dan aman jika dilakukan studi klinis dengan disain yang terkontrol, khususnya pada anak-anak ?

Beberapa studi penggunaan risperidone untuk penanganan kasus autisme ini sudah banyak dilakukan, salah satunya adalah studi penggunaan risperidone yang melibatkan sebanyak 101 anak-anak, dengan gangguan autistic, dengan rentang usia antara 5 – 17 tahun. Subyek dalam studi tersebut secara acak diberikan terapi dengan risperidone dosis  0,5 – 3,5 mg per hari atau plasebo sebagai pembanding. Studi ini dilakukan selama 8 minggu, dan memberikan hasil terjadinya penurunan dari skor iritabilitas sebesar 56,9%, dibandingkan dengan yang mendapat plasebo yaitu sebesar 14,1% (p<0,001). Besar perbaikan dari CGI skor dengan derajat baik dan baik sekali adalah sebesar sebesar 69% dan 12% masing-masing untuk risperidone dan plasebo. Risperidone sering dihubungkan dengan penigkatan berat badan, dan dalam studi ini pada kelompok yang mendapat risperidone terjadi peningkatan berat badan sebesar 2,7  ±  2,9 kg, sedangkan pada kelompok plasebo sebesar 0,8 ±  2,2 kg (p<0,01).

Efektivitas risperidone juga ditunjukkan oleh studi yang lain, tuatu studi dengan lama pemberian risperidone yang lebih lama dilakukan terhadap 37 anak-anak dengan autisme (5 – 17 tahun), dengan gejala-gejala perilaku yang agresif, dan tantrum. Total lama pemberian risperidone adalah 6 bulan. Secara umum pada kelompok yang mendapat risperidone terjadi perbaikan dari perilaku pada anak-anak dengan autisme tersebut. Risperidone juga lebih superior dalam hal mencegah terjadinya kekambuhan, yaitu masing-masing 3 dari 12 anak pada yang mendapatkan risperidone dan 8 dari  12 anak dari kelompok plasebo. Namun penggunaan jangka panjang ternyata juga meningkatkan risiko efek samping terutama adalah peningkatan nafsu makan dan berat badan, kecemasan, serta keluhan rasa lelah.

Namun secara umum penggunaan risperidone untuk memperbaiki perilaku  pada anak dengan autisme (agresif, tanrum, dsb) menunjukkan efektivitas yang lebih baik daripada plasebo. Penggunaan jangka pendek secara umum mempunyai keamanan yang baik.

Sumber : http://www.kalbe.co.id/articles/20538/efek-risperidone-terhadap-perbaikan-perilaku-anak-autisme.html%5C

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: