Anak Autis : Kisah Hikmah Ramadhan

Anak Autis : Kisah Hikmah Ramadhan

Kisah Ramadhan ini saya persembahkan kepada sobat saya yang sudah bercerita sedikit tentang sekelumit kisah hidup-nya. Ini adalah kisah seorang ibu dengan seorang anak autis. Dia yang harus berjuang mendidik anaknya sekuat tenaga untuk anaknya. Saya tidak tahu harus bermula dari mana cerita ini, apakah dari definisi autis atau tentang cara perawatan penderita autis…hmm, rasanya saya bukan ahlinya. Saya hanya akan berbagi hikmah Ramadhan saja ya…:) Mudah-mudahan bermanfaat.

Definisi Autis, seperti dalam wikipedia adalah “Cacat pada perkembangan syaraf & psikis manusia, baik sejak janin dan seterusnya; yang menyebabkan kelemahan/perbedaan dalam berinteraksi sosial, kemampuan berkomunikasi, pola minat, dan tingkah laku”. Saya sebenarnya tidak setuju dengan kata cacat…tetapi saya tentu tidak mau berdebat soal kata itu di artikel ini..hehe..capek. Anak sobat saya ini ternyata menderita autis walaupun tidak dideteksi secara medis. Loh. Entahlah, saya kurang ngerti juga, kata sobat saya juga, tidak semua cacat autis bisa terdeteksi oleh medis. Mohon dikoreksi bila salah ya. Sobat saya juga cerita, anaknya yang sekarang berumur 4 tahun ini belum bisa bicara normal untuk usianya. Dulu yang paling parah adalah hiperaktif, tidak memiliki rasa takut senormal anak usianya, seperti takut gelap, takut dengan cerita hantu dan sebagainya. Pun dia tidak pernah tidur di bawah jam 12 malam, seringnya menjelang subuh kalau tidur. Sekarang setelah mengalami proses perawatan dan bimbingan serta perhatian yang super-intens dari sobat saya (sang Ibunda), rupanya anaknya mendapatan peningkatan yang lumayan. Untuk ini, sobat saya harus rela untuk bekerja siang malam demi kebutuhan biaya perawatan sang Anak. Meskipun penghasilan dia boleh dibilang lumayan, namun ternyata belum cukup untuk membiayai perawatan anaknya. Akhirnya dia harus kerja sambilan. Memang, Tuhan tidak tidur sobat ….

Sobat saya ini insya Allah benar-benar menemukan arti kata syukur yang sesungguhnya. Ketika dia teringat begitu banyak karunia Allah untuknya selama dia hidup. Dia yang sejak kecil hampir selalu terpenuhi kebutuhan hidupnya, sekarang harus membuka mata. Impian memiliki anak yang bisa dibanggakan seperti anak-anak yang lain rupanya dijawab Allah dengan anaknya yang autis ini. Sempat dia merasa gundah dengan keadaan ini. Namun akhirnya dia tersadar bahwa, semua ini adalah rahasia Allah. Ketika dia melihat anak-anak lain bernyanyi dengan riang gembira, dia hanya berujar dalam hati, aku sangat bersyukur pada-Mu ya Tuhan jika anakku ini bisa mengucap sesuatu. Ketika dia ikut seminar tentang kecerdasan majemuk pada anak, dia hanya berfikir seandainya anaknya bisa mengerti apa maksud kata-kata ibunya. Saat dia melihat anak-anak menikmati film kartun Dora the explorer, ya Tuhan, kenapa dia berpikir anaknya harus seperti Dora yang cerdas itu? Namun dia harus optimis, anakku ini pasti hebat suatu kelak! Ya, di akhir ceritanya dia menyatakan bahwa, anaknya yang autis ini adalah “kiriman Tuhan dari Surga” yang akan mengajak orang tuanya kembali ke surga….Ya Allah, berilah kemuliaan kepada sobat saya ini.

Sobat saya ini rupanya benar-benar diberikan jalan bagaimana harus bersikap dengan pemberian Tuhan, nikmat Allah SWT. Hmm…kita termasuk saya juga, kadang merasa bahwa hanya kita yang tahu dan mengerti apa yang terbaik untuk kita. Dan ketika kita menemukan apa yang kita dapat ternyata tidak sesuai dengan keinginan kita, kita berkesimpulan, bahwa itu bukanlah yang terbaik untuk kita. Padahal kita sudah berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan sesuatu yang kita namakan terbaik itu. Ternyata semua itu gagal. Semua ternyata tidak sesuai dengan keinginan kita. Lantas kita marah. Jadi itukah rasa terima kasih pada Dzat yang Maha Memberi?

Sobat saya juga mengingatkan saya ternyata kita seharusnya lebih dekat lagi dengan orang tua karena dengan begitu kita akan bisa lebih menyayangi anak kita. Kita harus lebih dekat dengan sesama manusia, karena dengan begitu kita akan lebih dekat dengan Tuhan. Kira-kira begitu.

Buat sobatku, terima kasih atas cerita hikmah Ramadhan ini …. tetaplah bertahan dalam kesabaran ini. Saya tidak yakin bisa sekuat kamu…[ Hikmah Ramadhan, Autis, Definisi Autis, Cara perawatan penderita Autis, Sikap bersyukur, cara bersyukur ]

Sumber :          http://www.nindrianto.com/2009/09/anak-autis-kisah-hikmah-ramadhan.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: