Kisah Silvia Sembuh dari Asperger

Kisah Silvia Sembuh dari Asperger

BELAJAR BAHASA ASING DARI LABEL KOSMETIKA

Dilahirkan sebagai penderita Sindroma Asperger, Silvia (25) tumbuh menjadi gadis yang antisosial. Berbekal penguasaan banyak bahasa asing, ia berangsur sembuh. Bahkan kini Silvia telah menerbitkan kamus empat bahasa, serta akan menerbitkan buku-buku lain.

Dulu, aku adalah penderita Sindroma Asperger (SA). Sungguh tidak mudah tumbuh dewasa dengan sindroma ini. Sebagai anak tunggal dari pasangan Lim Hendry Sudarno (52) dan Herawati (44), aku tumbuh menjadi anak yang sangat tertutup dan suka menyendiri. Aku sangat tidak suka bersosialisasi dan lebih suka berdiam diri di rumah. Bahkan, aku cenderung ketakutan. Saking ketakutannya untuk bersosialisasi, aku (dan banyak penderita SA lainnya), jadi menderita mag akut.

Sampai usia empat tahun, aku tumbuh seperti anak kecil normal lainnya. Kecuali tubuhku yang cenderung kurus, sebetulnya aku adalah anak yang sangat cerewet. Karena sifatku yang banyak omong di rumah, Mama dan Papa tidak sadar, anaknya memiliki kendala dalam sosialisasi.

Aku sama sekali tak mau diajak bertamu atau bertemu orang. Kalau orang lain senang disapa teman, tidak demikian denganku. Aku malah merasa sangat terganggu jika ada teman yang berlaku ramah. Kelainan ini semakin terasa ketika aku menginjak usia 6 tahun. Namun demikian, Mama dan Papa mengira, aku hanyalah seorang anak yang luar biasa pemalu, itu saja.

MENGOBATI DIRI SENDIRI

Mungkin karena suka menyendiri, aku jadi suka menghabiskan waktu dengan belajar. Tak heran, sejak SD aku selalu menduduki peringkat bagus di kelas. Selain bahasa, pelajaran yang sangat aku suka adalah matematika.

Selain belajar, aku juga sangat suka membaca. Karena tidak suka bermain, aku jadi menghabiskan waktuku dengan membaca. Semua buku aku lalap sampai habis. Aku menemukan “dunia luar” dari buku-buku yang aku baca. Bahkan, dari hobi membaca, aku akhirnya bisa mengobati diriku sendiri dari sindroma yang sudah aku akrabi sejak kecil itu.

Buku yang berjasa membuka mataku pertama kali terhadap SA adalah Insiden Anjing di Tengah Malam yang Bikin Penasaran, karangan Mark Haddon. Buku itu memunculkan seorang tokoh penderita SA, bernama Christopher Boone. Ciri-ciri mengenai Boone yang digambarkan oleh Mark Haddon amat mirip dengan ciri yang aku rasakan. Seperti Boone, aku juga memiliki kendala sosial yang parah, bahkan sampai depresi. Aku juga sangat peka terhadap bau, suara, rasa, dan penglihatan.

Penasaran dengan SA yang aku dapat dari buku itu, aku mencari lebih banyak informasi mengenai kelainan yang pertama kali dipublikasikan oleh Hans Asperger pada tahun 1944 itu, dari internet. Seolah baru tersadar dari tidur panjang, aku mereguk informasi mengenai SA sepuasnya. Tanpa malu, aku berani berterus terang, aku memang mengidap SA.

Setelah tahu penyakitku, aku mengutarakannya pada Papa dan Mama. Mereka sangat mengerti kesulitanku. Terutama Mama, beliau paling mengerti sifatku yang aneh. Pelan-pelan Mama mengajakku untuk bersosialisasi. Semula aku diajak jalan-jalan ke mal yang kecil dan tak terlalu ramai.

Jangan tanya bagaimana aku harus menekan rasa takutku. Namun, aku yang sudah menyadari penyakitku, terus mencoba mengobati diriku sendiri. Meski sedikit demi sedikit, aku mulai bisa menepis rasa takut. Aku yang semula tak berani menatap orang lain, mulai berani melakukannya.

Sumber            :           http://nostalgia.tabloidnova.com/articles.asp?id=8661

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: